Prodi Pendidikan IPS




Program Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia (PPS UPI) telah berusia 36 tahun, terhitung sejak berdirinya Lembaga Pendidikan Post-Doktoral (LPPD) tahun 1968. Hal ini menempatkan PPS UPI sebagai salah satu PPS yang paling awal menyelenggarakan pendidikan setingkat pascasarjana secara formal di Indonesia. Hingga 30 April 2004, PPS UPI telah menghasilkan 2127 Magister dan 280 Doktor Pendidikan. Mereka berasal dari berbagai perguruan tinggi negeri dan swasta, instansi pemerintah di pusat dan di daerah, BUMN perusahaan, swasta, LSM, sekolah-sekolah, dll. Banyak lulusan PPS UPI yang menduduki jabatan strategis di tempat kerjanya. PPS UPI — saat itu masih bernama IKIP Bandung — dengan nama Program Pascasarjana dimulai pada tangggal 6 Juni 1991, sesuai dengan Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 0311/O/1991. Sebelumnya, PPS UPI bernama Fakultas Pascasarjana (FPS) mulai 24 Januari 1983. Lebih dulu, lembaga pendidikan ini dikenal dengan Sekolah Pascasarjana (SPS). Perubahan nama dan status itu sejalan dengan kebijaksanaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan mengenai pengembangan pendidikan program pascasarjana, dalam rangka melaksanakan Pola Pembaharuan Sistem Pendidikan Tenaga Kependidikan (PP-SPTK).
Pada tahun 1968 Rektor IKIP Bandung menetapkan berdirinya Lembaga Pendidikan Post Doktoral (disingkat LPPD). Lembaga tersebut memulai kegiatannya pada semester II tahun kuliah 1968. Pada tahun 1970 IKIP Bandung telah mulai merintis pendidikan formal bagi dosen-dosennya dalam bentuk pendidikan Pascasarjana. Sampai dengan tahun 1977/1978 LPPD telah menghasilkan 13 lulusan Program A-1 (7 Angkatan) dan 84 lulusan Program A-2 (5 Angkatan) dari beberapa bidang studi atau jurusan. Pada tahun 1974 Dewan Konsorsium Ilmu Pendidikan dalam sidangnya menanggapi gagasan Direktorat Pendidikan Tinggi mengenai program pendidikan Doktor Ilmu Pendidikan, serta menghasilkan sebuah keputusan yang menugaskan LPPD IKIP Bandung untuk mengembangkan program Doktor Pendidikan secara penuh dalam dua spesialisasi, yaitu Administrasi Pendidikan dan Bimbingan & Penyuluhan yang mahasiswanya direkrut dari seluruh Indonesia.
Di samping itu, LPPD sendiri dalam programnya telah pula merumuskan strategi pemilihan bidang spesialisasi yang menghasilkan deskripsi bidang-bidang studi yang direncanakan untuk pendidikan Doktor Ilmu Pendidikan. Bidang-bidang tersebut adalah Pendidikan Bahasa Indonesia, Administrasi Pendidikan (termasuk perencanaan pendidikan), Bimbingan dan Penyuluhan, Pengembangan Kurikulum, Pendidikan Eksakta (IPA dan Matematika), Studi Sosial, dan Fundasi-fundasi Pendidikan. Bidang-bidang studi mayor yang kemudian dibuka adalah Administrasi Pendidikan, Bimbingan dan Penyuluhan, Pengembangan Kurikulum, dan Pendidikan IPA.
Setelah menyelesaikan penyelenggaraan Program A-I dan A-II, pada tahun 1977 LPPD mulai melaksanakan Program B (Pascasarjana), dan pada tahun itu pula mulai dirancang persiapan untuk membuka Program C (penelitian dan penulisan disertasi).Setelah masa peralihan dalam bentuk Sekolah Pascasarjana (SPS), sistem pendidikan post-doktoral yang diselenggarakan oleh LPPD selanjutnya disesuaikan dengan sistem S2 dan S3 yang ditetapkan dalam Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 0124/U/ 1979 tanggal 29 Desember 1979. Dengan peranan yang semakin jelas dan mantap dalam keseluruhan sistem pendidikan tinggi, serta kewajiban melanjutkan program yang telah ditangani oleh LPPD/SPS, mulai tahun 1980 di SPS IKIP Bandung dilaksanakan pendidikan Program S2 dan Program S3. Pada saat itu, Program S2 meliputi empat bidang studi utama (mayor), yaitu: (1) Pendidikan Luar Sekolah mulai tahun 1979; (2) Pendidikan Ilmu Pengetahuan Alam mulai tahun 1980; (3) Pengajaran Bahasa Indonesia mulai tahun 1980; dan (4) Bimbingan dan Penyuluhuan mulai tahun 1980. Program S3 yang telah dilaksanakan mulai tahun 1976 oleh LPPD menyelenggarakan bidang-bidang: (1) Administrasi Pendidikan mulai tahun 1977; (2) Bimbingan dan Penyuluhan mulai tahun 1977; (3) Pengembangan Kurikulum mulai tahun 1978; (4) Pendidikan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) mulai tahun 1978; (5) Pengajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) mulai tahun 1978; (7) Psikologi Pendidikan mulai tahun 1979; dan (8) Pendidikan Luar Sekolah (PLS) mulai tahun 1980.
Pada tahun kuliah 1981/1982, PPS IKIP Bandung membuka Program S2 dan S3 dengan bidang-bidang studi sebagai berikut. Untuk Program S2 dibuka bidang studi (1) Pendidikan Ilmu Pengetahuan Alam, (2) Pengajaran Bahasa Indonesia, (3) Bimbingan & Penyuluhan, dan (4) Administrasi Pendidikan. Untuk Program S3 dibuka bidang studi (1) Pengembangan Kurikulum, (2) Administrasi Perguruan Tinggi, dan (3) Pendidikan Kimia.Pada mulanya, titik berat PPS UPI lebih pada Program S2 agar para lulusannya betul-betul dapat membantu pengembangan dan peningkatan mutu program S1 dan Diploma. Pada tahun-tahun berikutnya, juga setelah ditingkatkan dasar hukumnya serta diubah menjadi Fakultas Pascasarjana (FPS), usaha-usaha penyempurnaan dan pengadaan tetap dilakukan, baik dalam segi akademik (termasuk tenaga pengajar), administrasi, sarana (piranti keras), maupun struktur pimpinan/pengelola serta personalianya. Usaha-usaha penyempurnaan itu diperkuat dengan adanya pertemuan periodik antar pimpinan PPS seluruh Indonesia, fasilitasi dari Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi dan bantuan dari berbagai pihak, dan pada tahun 1980-an kerjasama dengan P2LPTK. Kegiatan yang disebut terakhir ini telah berhasil memberikan kesempatan kepada semua tenaga pengajar PPS UPI pada saat itu untuk mengikuti penyegaran akademik (refresher course) di Amerika Serikat. Dari penyegaran akademik ini, antara lain telah dihasilkan berbagai buku teks yang menjadi salah satu referensi para mahasiswa dan dosen.
Sejalan dengan semakin luas dan beragamnya tuntutan masyarakat, pengembangan program studi dan konsentrasi terus dilakukan. Pada tahun 1995 dibuka program S2 bidang konsentrasi Pendidikan IPA SD dan Pendidikan IPS SD guna memenuhi kebutuhan bagi peningkatan kualifikasi pendidikan para dosen Program Pendidikan Guru SD (PGSD). Pada tahun 1996, dibuka konsentrasi Bimbingan Anak Khusus pada Program Studi Bimbingan dan Penyuluhan. Pada tahun yang sama, dibuka pula Program S2 Pendidikan Olahraga. Selanjutnya,pada 1997 Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia dikembangkan menjadi Pendidikan Bahasa yang meliputi S2 konsentrasi Pendidikan Bahasa Indonesia dan S2 Pendidikan Bahasa Inggris. Mulai tahun 2001, dibuka pula program S2 konsentrasi Pendidikan Bahasa Jepang bekerja sama dengan The Tokyo Foundation. Sementara itu, untuk program S3, yang dibuka masih tetap Pendidikan Bahasa Indonesia. Persiapan sedang dilakukan untuk membuka Program S3 Pendidikan Bahasa Inggris. Pemekaran juga dilakukan pada Pendidikan MIPA yang mulai tahun 1998 dipecah menjadi Program Studi Pendidikan IPA dan Pendidikan Matematika. Di bawah Pendidikan IPA dibuka S2 konsentrasi Pendidikan IPA SD, Fisika Sekolah Lanjutan (SL), Biologi SL, dan Kimia SL; sementara pada program S3 yang dibuka tetap S3 Pendidikan IPA. Di bawah Program Studi Pendidikan Matematika, dibuka S2 konsentrasi Pendidikan Matematika SD dan Pendidikan Matematika SL, serta S3 Pendidikan Matematika. Pada 1998, Program Studi PLS dikembangkan dengan dibukanya PLS konsentrasi Pelatihan untuk merespons kebutuhan dari lapangan, antara lain dari Ditjen Diklusepora dan berbagai Pusdiklat.
Pada 1998 pula, Program Studi Administrasi Pendidikan membuka konsentrasi Perencanaan dan Manajemen Pendidikan (S2) dan Studi Kebijakan (S3) yang dirancang untuk memenuhi kebutuhan kalangan manajer pendidikan. Peminat untuk program-program baru tersebut cukup besar, terbukti dari banyaknya jumlah pendaftar setiap tahun. Mulai tahun akademik 2001/2002, jumlah dan jenis konsentrasi yang dibuka semakin diperluas pada sebagian besar program studi.Konsentrasi-konsentrasi baru tersebut antara lain Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Anak Berbakat, Tes dan Pengukuran, Penelitian dan Evaluasi Pendidikan, Pengembangan Kurikulum Pendidikan Dasar hingga Pendidikan Tinggi, Filsafat dan Teori Pendidikan, Pendidikan Nilai, Pendidikan Keagamaan, Pendidikan Kewarganegaraan, Pendidikan Sejarah, Pendidikan Internasional, Pendidikan Lingkungan, Pendidikan Kehidupan Keluarga, dsb. Pengembangan bidang-bidang konsentrasi juga dilakukan pada program S3. Secara keseluruhan, pada program S2 terdapat 50 konsentrasi yang tersebar pada 10 program studi dan pada program S3 sebanyak 36 konsentrasi pada 9 program studi. Untuk lengkapnya, lihat uraian tentang program studi dan konsentrasi. Berbeda dengan format sebelumnya, mulai tahun 2001/2002, bidang-bidang konsentrasi (kecuali untuk beberapa konsentrasi tertentu yang rumpun dan basis keilmuannya relatif berbeda) dibuat lebih terbuka dan fleksibel.
Artinya, mahasiswa dapat menentukan pilihannya setelah sekitar 1-2 semester menempuh perkuliahan. Sebagian besar perkuliahan juga ditempuh dalam lingkup program studi yang termasuk kelompok matakuliah program studi. Kajian mandiri dan tesis/disertasi ditulis sesuai dengan bidang konsentrasi yang ditempuh oleh mahasiswa. Pengembangan bidang-bidang konsentrasi tersebut dilaksanakan sejalan dengan dilakukannya restrukturisasi kurikulum yang berlaku efektif mulai tahun akademik 2001/2002.Selain jumlah dan ragam konsentrasi semakin bertambah, di antara ciri-ciri kurikulum baru tersebut adalah semakin membesarnya porsi komponen matakuliah program studi dan konsentrasi, diperkuatnya kemampuan dasar dalam metode penelitian dan statistika sebagai alat kerja keilmuan, dan dikembangkannya perspektif global dengan ditawarkannya matakuliah yang membahas pendidikan pada era global, kajian perbandingan internasional pada hampir semua program studi, dan teknologi cyber pada konsentrasi yang mengarah pada penguasaan teknologi pendidikan. Usaha-usaha pengembangan PPS UPI masih akan terus dilakukan sebagai jawaban terhadap perubahan IKIP Bandung menjadi Universitas Pendidikan Indonesia berdasarkan Kepres No. 24/1999, tertanggal 7 Oktober 1999, dan PP RI Nomor 6 tahun 2004 tentang penetapan UPI sebagai Badan Hukum Milik Negara. Di antara arah yang akan ditempuh ke depan adalah dibukanya program studi dan konsentrasi pada bidang ilmu “murni” (non-kependidikan).

Pengangguran Dunia


Jenewa, (tvOne)

Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) memperingatkan bahwa pemulihan ekonomi global belum membawa dampak positif ke pengurangan tingkat pengangguran dunia. ILO melansir, pengangguran dunia tetap pada rekor 205 juta pada 2010.

"Meski rebound tajam dalam pertumbuhan ekonomi banyak negara, pengangguran global resmi mencapai 205 juta 2010. Pada dasarnya tidak berubah dari 2009, dan 27,6 juta lebih besar menjelang krisis ekonomi global pada 2007," ungkap ILO

"ILO memproyeksikan, tingkat pengangguran global 6,1 persen, setara dengan 203,3 juta menganggur, sampai 2011."

Hanya lebih dari setengah dari pengangguran yang terjadi sejak 2007 di negara-negara industri dan Uni Eropa, menurut badan tenaga kerja PBB. Banyak anak muda mencapai usia kerja juga gagal untuk mencari pekerjaan. ILO juga mencatat, di negara berkembang seperti Brazil, Kazakhstan dan Thailand, tingkat pengangguran telah jatuh di bawah tingkat sebelum krisis.

"Meskipun pemulihan sangat dibedakan di pasar tenaga kerja di dunia, biaya manusia yang luar biasa dari resesi masih bersama kami," Direktur Jenderal ILO Juan Somavia mengatakan.

Selain pengangguran, sekitar 1,53 miliar orang terjebak dalam "pekerjaan rentan" seperti pekerjaan sementara."Kejadian pekerjaan rentan tetap tak banyak berubah sejak tahun 2008, kontras dengan rata-rata penurunan mantap dan signifikan dalam tahun-tahun sebelum krisis."

Angka pengangguran kaum muda juga tampak mengecewakan,  78 juta orang anak muda menganggur pada 2010, naik dari tingkat pra-krisis 73,5 juta pada 2007. "Pekerja muda merupakan prioritas dunia," tegas Somavia.

"Pemulihan lemah dalam pekerjaan yang layak memperkuat berlanjutnya ketidakmampuan ekonomi dunia untuk mengamankan masa depan bagi semua pemuda. Ini melemahkan keluarga, kohesi sosial dan kredibilitas kebijakan," katanya. (Ant)

Forum Eknomi

Davos, (tvOne)
Forum ekonomi dunia, Rabu (26/1) pagi waktu setempat resmi dibuka di Davos, Swiss. Reformasi industri finansial menjadi fokus utama pada konferensi tahunan yang kini memasuki tahun ke-40.

Perhelatan tahunan ini dihadiri 2.500 tokoh politik dan pebisnis terkemuka dunia. Selain itu para akademisi juga hadir untuk membahas berbagai persoalan yang kini menjadi perhatian dunia.
Salah satu fokus utama pembahasan adalah reformasi industri finansial, menyusul kredit macet yang melanda sejumlah negara Eropa sepanjang dua tahun terakhir. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dijadwalkan menyampaikan salah satu dari lima pidato utama khusus pada 27 Januari 2011.

Multukultural

Salah satu judul pembelajaran di SOSIOLOGI kelas XI jurusan IPS yaitu multikultural . Multi berarti banyak dan kultur berarti kebudayaan . Sehingga multikultural mengandung pengertian masyrakat yang memiliki struktur atau tipe budaya lebih dari satu. Indonesia termasuk dalam salah satu negara yang masyarakatnya multikultural dikarenakan Indonesia memilki macam-macam kebudayaan yang berbeda di tiap daerahnya. Masyarakat multikultural sangat rawan terjadi konflik social . Banyak masyarakat yang tidak menghargai kebudayaan orang lain sehingga dapat menumbulkan kecemburuan sosial .

Selasa, 25 Januari 2011

IHSG

Jakarta, (tvOne)

Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan hari kedua pekan ini diprediksi kembali terkoreksi.

Minimnya sentimen positif di pasar membuat indikasi pembalikan arah untuk menguat belum terlihat.

Menutup perdagangan Senin kemarin, IHSG melemah 33,48 poin atau sekitar satu persen ke level 3.346. Sedangkan untuk hari ini, potensi pergerakan IHSG berada di kisaran 3.310 pada level support dan resistence pada level 3.396.

Beberapa faktor yang mempengaruhi arah pergerakan indeks antara lain, pertama bursa Wall Street menguat dengan potensi Indek Dow Jones yang mendekati level psikologis 12.000.

Kedua, pasar berekspektasi kenaikan suku bunga global jelang pertemuan The Fed, Rabu besok. Ketiga, investor masih menanti laporan keuangan emiten 2010, untuk memilah saham mana saja yang layak dikolesi.

Berikut, lima saham pilihan yang layak untuk dicermati pada perdagangan hari ini ditinjau dari sisi teknis dan aksi korporasi yang dilakukan emiten.

Pertama, saham Tambang Batu Bara Bukit Asam (PTBA) menargetkan bisa merampungkan akuisisi terhadap satu perusahaan tambang batu bara pada pertengahan tahun ini.

Kedua, saham Astra Internasional. Astra masih menjadi pemain dominan pada industri otomotif nasional dengan meraih pangsa pasar penjualan mobil sebesar 56 persen sepanjang 2010.

Ketiga, saham Wijaya Karya. Perseroan segera mengoperasikan pembangkit listrik tenaga diesel di Bali akhir bulan ini dengan kapasitas 50 MW.

Keempat, saham Bumi Resources. Penjualan perseroan diperkirakan terdongkrak sebesar 10 persen tahun ini dengan kenaikan harga batu bara dunia.

Terakhir, saham Elnusa. Perseroan telah menandatangani perjanjian untuk menerbitkan Fixed Rate Notes (FRN) dengan suku bunga 8,98% berjangka waktu lima tahun.

dollar amerika banjiri pasar domestik

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang menguat secara signifikan dalam sepekan terakhir antara lain dipicu oleh derasnya arus valuta asing (valas) yang masuk ke dalam pasar domestik.
Kamis (7/1), kurs rupiah terhadap dolar AS sempat menguat ke level Rp 9.200 per dolar AS meski kemudian pada sore harinya ditutup melemah tipis ke level Rp 9.228 per dolar AS.

Penjabat Sementara Gubernur Bank Indonesia (BI) Darmin Nasution membenarkan hal tersebut. Darmin menyebutkan, derasnya arus valas yang masuk tersebut terlihat jelas dalam dua atau tiga hari terakhir ini.

Namun dia menghimbau para pelaku pasar agar jernih dalam melihat fenomena tersebut karena tren itu dinilainya bukan sesuatu yang permanen.

"Sekarang (rupiah) memang sedang agak menguat, tetapi juga harus dilihat karena (ada valas) masuk, ya rupiah menguat. Nanti melemah sedikit, itu selalu naik-turunnya ada," ungkap Darmin di Jakarta, Kamis (7/1).

Sehari sebelumnya, tepatnya setelah rapat dewan gubernur BI, Darmin mengatakan arus valas yang masuk ke pasar domestik menguat tajam. "Kita terus pantau dari jam per jam. Kalau ada sesuatu, kita akan mengambil tindakan tapi sepanjang dalam wilayah yang bisa diterima," kata Darmin.

Darmin menduga, membanjirnya valas di pasar karena pelaku pasar mencoba memprediksi apa isi keputusan rapat dewan gubernur (RDG) BI sehari sebelumnya yang ternyata memilih mempertahankan suku bunga acuan BI rate tetap di level 6,5 persen. Para pelaku pasar kemudian mencoba berlomba masuk.

Selain itu, para pelaku pasar juga membandingkan dengan kebijakan suku bunga (rate policy) di Indonesia dengan di negara lain seperti Amerika Serikat (AS).
"Karena itu masuknya valas memang agak besar pada beberapa hari terakhir. Itu sentimen pasar yang lebih banyak mempengaruhi ekspektasi mereka. Bagaimana pun juga, jika melihat indikasi pada surat-surat berharga mereka akan mudah melihat indikasi kebijakan suku bunga kita berapa," papar dia.

Darmin menyebutkan, ke depan, pergerakan kurs rupiah seharusnya tidak secepat dua atau tiga hari terakhir ini sehingga tidak mengguncang kinerja pengusaha eksportir dan importir nasional. "Harusnya ini tidak berpengaruh banyak karena (penguatan rupiah) sifatnya hanya sementara," jelas Darmin. (Persda Network/aco)


Perbanas: Bunga Kredit Perbankan Sudah Rendah

PENURUNAN suku bunga acuan BI rate terbukti kurang mempan mendorong perbankan untuk menurunkan suku bunga kredit. Alasannya, meski suku bunga BI rate turun, bank masih tetap harus menanggung aneka biaya operasional seperti biaya listrik, transaportasi, dan sebagainya.

Ketua Umum Perhimpunan Bank Umum Nasional (Perbanas) Sigit Pramono di Jakarta, Kamis (7/1) berkilah, suku bunga kredit perbankan saat ini sebenarnya sudah rendah, sementara biaya lain untuk operasional  yang ditanggung perbankan masih tetap tinggi.

Tinjauan kebijakan moneter Bank Indonesia terbaru yang dipublikasikan di Jakarta menyebutkan, penurunan BI rate belum berpengaruh signifikan terhadap laju penurunan suku bunga kredit.  Selama tahun 2009 BI rate telah diturunkan sebesar 275 basis poin (bps).

Namun suku bunga kredit perbankan secara rata-rata hanya menurun 85 bps. Ternyata penurunan BI rate tidak mempan untuk bisa menurunkan suku bunga kredit.

Namun Sigit mengakui, suku bunga deposito saat ini juga masih tergolong tinggi. Jika bunga deposito masih tinggi maka bunga kredit juga akan susah turun. "Tapi kami optimistis pertumbuhan kredit tahun ini bisa tumbuh 22-24 persen atau harus empat kali lipatnya dari pertumbuhan ekonomi," tegas Sigit Pramono.